Pada bulan September 2022, Universitas Islam Makassar (UIM) menjadi tuan rumah Pertukaran Mahasiswa Merdeka (PMM) II yang diikuti oleh 108 mahasiswa dari seluruh penjuru Indonesia. Kehadiran mereka di UIM menambah warna dan semangat baru dalam kehidupan kampus. Saya berkesempatan ikut menjemput mereka di bandara dan tentu saja bersama dosen modul nusantaranya.
Namun, saat itu Makassar sedang dikepung oleh macet yang parah. Jalanan di depan Perintis Kemerdekaan, jalan utama di kota Makassar, ditutup oleh mahasiswa Universitas Hasanuddin yang melakukan aksi penolakan kenaikan harga bahan bakar. Kami yang berada di mobil terpaksa harus menunggu beberapa jam hingga jalan mulai longgar, bahkan beberapa mobil yang lain mesti memarkir.
Meskipun begitu, kedatangan para mahasiswa dari seluruh Indonesia membawa banyak kebahagiaan dan semangat baru di kampus. Mereka berasal dari berbagai universitas dan daerah yang berbeda-beda, mulai dari Aceh hingga Papua. Bagi sebagian dari mereka, PMM II ini merupakan pengalaman pertama mereka keluar dari pulau asal dan mengunjungi Pulau bernama Sulawesi.
Program PMM memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk mengenal kebudayaan dan lingkungan yang berbeda dari daerah mereka sendiri. Mereka dapat belajar dari masyarakat setempat, mengenal kebiasaan dan tradisi yang berbeda, serta mengeksplorasi potensi daerah yang belum mereka ketahui sebelumnya.

Saya percaya bahwa pengalaman seperti ini sangat berharga bagi perkembangan pribadi dan akademis mahasiswa. Dalam program PMM, mahasiswa tidak hanya belajar dari buku dan peta, tetapi juga belajar langsung dari masyarakat setempat. Mereka diajak untuk menggali, mengenali, dan menganalisa asal-usul kebudayaan dari masyarakat itu sendiri, seperti yang diungkapkan oleh Ibe S Palogai, salah satu kawan dan penyair yang pernah melakukan program residensi penulis di Belanda; “bahwa mengenal sesuatu dari buku atau peta adalah sesuatu yang sangat abstrak”.
Dalam kesempatan PMM ini, para mahasiswa juga dapat membangun jaringan dan persahabatan dengan mahasiswa dari seluruh Indonesia. Mereka saling bertukar pengalaman dan pengetahuan, serta mendapatkan pandangan baru tentang kehidupan dan kebudayaan di Indonesia.
Secara keseluruhan, program Pertukaran Mahasiswa Merdeka adalah sebuah inisiatif yang sangat baik dan bermanfaat bagi mahasiswa di Indonesia. Mereka dapat memperluas pandangan dan pengalaman, serta memperkaya diri dengan pengetahuan dan pengalaman baru. Saya berharap bahwa program seperti ini terus diadakan dan berkembang, sehingga lebih banyak mahasiswa yang dapat merasakan manfaatnya.

Tidak hanya itu, program pertukaran mahasiswa seperti PMM juga memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk belajar dan mengembangkan soft skills seperti kemampuan beradaptasi dengan lingkungan baru, membangun jaringan sosial, serta meningkatkan kepercayaan diri dan kemandirian. Selain itu, PMM juga memberikan peluang untuk mengenal dan memperluas wawasan tentang budaya, bahasa, dan adat istiadat daerah yang berbeda-beda di Indonesia. Dalam era globalisasi dan interkonektivitas yang semakin pesat, kemampuan untuk memahami dan berinteraksi dengan berbagai budaya dan masyarakat menjadi semakin penting. Oleh karena itu, PMM menjadi salah satu program yang sangat berharga bagi mahasiswa dalam mengembangkan kemampuan interkultural mereka.
Namun, tidak dapat dipungkiri bahwa program pertukaran mahasiswa seperti PMM juga memiliki beberapa tantangan dan kendala. Salah satu kendala yang sering dihadapi adalah terkait dengan anggaran dan biaya. Program PMM membutuhkan biaya yang cukup besar untuk mengirim dan menampung mahasiswa dari berbagai daerah di Indonesia. Selain itu, terkadang juga ada kesulitan dalam menemukan tempat tinggal yang aman dan nyaman bagi para mahasiswa yang datang dari luar daerah. Tantangan lainnya adalah dalam hal pemilihan dan persiapan mahasiswa yang akan dikirim dalam program PMM. Diperlukan seleksi yang ketat dan persiapan yang matang agar mahasiswa yang dikirim dapat benar-benar memanfaatkan kesempatan ini dengan sebaik-baiknya dan menghasilkan dampak yang positif bagi diri mereka sendiri dan juga bagi lingkungan sekitar.
Dalam rangka meminimalisir tantangan dan kendala tersebut, diperlukan dukungan dari berbagai pihak, baik dari pemerintah, perguruan tinggi, maupun masyarakat secara keseluruhan. Pemerintah dapat memberikan dukungan kebijakan dan anggaran yang memadai untuk program PMM, sedangkan perguruan tinggi dapat memastikan kesiapan infrastruktur dan sarana prasarana untuk menampung mahasiswa yang datang dari luar daerah. Masyarakat juga dapat memberikan dukungan dan keramahan untuk mahasiswa yang datang dari luar daerah agar mereka dapat merasa nyaman dan terintegrasi dengan lingkungan sekitar. Dengan dukungan yang solid dari berbagai pihak, program PMM dapat terus berjalan dan memberikan manfaat yang besar bagi mahasiswa dan masyarakat luas.
Selama menjalani PMM di UIM, para mahasiswa merasakan banyak hal baru dan berbeda. Mereka belajar untuk hidup mandiri, menyesuaikan diri dengan lingkungan dan budaya yang berbeda, serta belajar berkomunikasi dengan orang-orang dari latar belakang yang berbeda-beda. Selain itu, mereka juga diberikan kesempatan untuk mengenal dan mempelajari budaya Makassar dan Sulawesi Selatan secara langsung, dari kebudayaan, adat istiadat, makanan, hingga bahasa.
Lebih dari itu, PMM juga memberikan kesempatan bagi para mahasiswa untuk berbagi ilmu dan pengalaman yang dimilikinya dengan mahasiswa di kampus yang mereka kunjungi. Mereka dapat berdiskusi, bertukar pikiran, dan memperluas jaringan pertemanan yang mungkin akan sangat berharga bagi masa depan mereka. Hal ini juga dapat membantu mengembangkan kemampuan berbahasa dan mengenal budaya lain secara lebih dalam.

Setelah berbulan-bulan belajar dan menetap di Makassar, para mahasiswa PMM akhirnya harus meninggalkan rumah kedua mereka dan kembali ke almamater masing-masing. Meskipun mereka akan kembali ke kehidupan mereka yang biasa, tidak dapat disangkal bahwa pengalaman PMM di UIM telah membawa perubahan signifikan pada kehidupan mereka.
Perpisahan selalu menjadi momen yang sulit untuk dihadapi, dan bagi para mahasiswa PMM, meninggalkan Makassar dan teman-teman yang mereka temui selama di sana merupakan momen yang emosional.
Mereka merasa sedih karena harus meninggalkan kota yang telah menjadi rumah kedua mereka dan orang-orang yang telah menjadi teman dekat mereka selama berbulan-bulan.
Namun, meskipun perpisahan sulit, para mahasiswa PMM dapat membawa kenangan manis mereka selama di Makassar dan persahabatan yang telah mereka bangun untuk diingat selamanya. Mereka dapat menjaga hubungan dengan teman-teman mereka, mengunjungi Makassar lagi di masa depan, dan terus mengembangkan nilai-nilai yang telah mereka pelajari selama di UIM.
Dalam menghadapi perpisahan, penting bagi para mahasiswa PMM untuk menjaga perspektif positif dan berfokus pada pengalaman yang mereka dapatkan selama di Makassar. Pengalaman ini telah membantu mereka tumbuh dan berkembang, dan akan membawa dampak positif pada kehidupan mereka di masa depan.
Kita semua tahu bahwa perpisahan bukanlah akhir dari segalanya, tetapi awal dari hal-hal baru.
Dalam hal ini, perpisahan dari Makassar bukan berarti akhir dari pengalaman para mahasiswa PMM, tetapi merupakan awal dari perjalanan baru dalam kehidupan mereka. Mereka telah menjadi lebih terbuka, toleran, dan penuh dengan pemahaman tentang keberagaman. Semua ini akan membawa dampak positif pada kehidupan mereka di masa depan, dan kita semua akan berharap yang terbaik bagi mereka dalam perjalanan mereka ke depan.

Komentar
Posting Komentar